C'est Moi

Tertulis saja sebuah cerita yang tidak semua tentang saya atau kamu saja... tapi tertulis semua apa yang aku dengar dari mereka atau sekedar aku lihat dengan tak sengaja... Jadi bijaklah dalam menilai dan menafsirkan segala apa yang ada di "Hati Leny"

"Ho Scritto una storia d'amore senza inizio e senza fine per scriverla con te"

Pages

Senin, 19 Desember 2011

My Sunday :Kosong:

Minggu,18 Desember 2011

Penghujung tahun 2011, dua minggu lagi memasuki tahun 2012. Minggu ini adalah minggu yang masih sama setelah oktober kemarin. Minggu yang berbeda dari tiga tahun belakang yang kemarin. Mingguku sepi sendiri. Mingguku di penuhi dengan kegelisahan,dengan kebimbangan dari sebuah kenangan dan kebiasaan kebiasaan yang dulu aku alami dan lalui.

Minggu ini jam 13.30 Wib di sebuah ruang tamu yang tidak besar dengan sebuah meja ,kursi panjang dan dua kursi personal. Ditemani dengan keadaan yang berantakan dan 6 bungkus kwaci matahari. Dan dengan back song Snow Flowerpack – Ost . I’m Sorry I Love you. Tetap sendiri dengan keterbatasan kesenangan.  Siang hari dengan terik matahari yang seimbangan setelah kemarin semalam suntuk hujan.

Menghela nafas dan menyunggingkan bibir,entah senyum manis atau hanya senyum kegetiran dengan keadaanku yang sekarang. Sudah lebih dari sepuluh minggu ternyata. Namun belum sedikitpun aku bisa mengatakan mingguku adalah minggu ceria. Mingguku masih hidup dengan penuh kenangan darinya. Bagaimana mungkin aku tidak menangis karena mengingat,semua begitu indah,setiap detiknya begitu berharga. Dan aku sangat sayang untuk melupakannya. Meskipun jika aku tidak mengingat akupun tidak akan menjamin aku lupa.

Bagaimana mungkin sebuah pikiran bisa di ajak berkompromi dengan hati untuk menghapus sebuah perasaan. Kalaupun bisa itu adalah sebuah ke egoisan dan pemaksaan. Bukan karena ingin terlarut dalam sebuah perasaan dan jatuh menjadikan sebuah kesedihan,ketika kita mengingat itu semata-mata karena sebuah kejujuran bahwasanya perasaan memang tidak pernah bisa untuk di tahan. Namun,Tapi mungkin terbalik dengan sebuah Quotes yang aku baca yang bunyinya seperti ini :
“dan jika kamu merasakan cinta pada seseorang,maka diamlah jangan pernah kamu mengatakan dan menunjukan,dan jika kamu akhirnya mati dalam sebuah kesabaran,niscaya kamu mendapatkan tempat di surgaNya”
Mungkin Quote ini ditujukan pada mereka yang menjadi Akhwat dan Ikhwan sejati. Atau seorang sufi yang tidak lagi mengharapkan sesuatu di dunia selain TUHANnya. Namun aku berbeda. Aku adalah Leny,seseorang yang masih sangat dekat dengan hawa nafsu dan dengan segala keinginan hidup di dunia ini. Masih mengharapkan sebuah cinta,mendapatkan sebuah cinta,dan segala sesuatu yang akan membahagiakan untuk hidupku. Aku belum bisa menahan perasaanku atasnya. Belum bisa untuk tidak bilang aku merindukannya. Mungkin itu sebuah dosa,tapi secara egois aku berharap untuk tidak ada yang menyalahkan dosaku.

Mingguku selama 3 tahun aku lewati dengan sebuah kesenangan,kegembiraan dan kebahagiaan dalam sebuah kebersamaan. Bagaimana aku berjam jam menghabiskan waktu bersamanya,kita bercanda,ngobrol dan segala macam kegiatan yang semakin memakan waktu.

Pagi itu, jam 10 kurang kadang lewat,dan aku mendengar salamnya saat dia datang,mengetok pintu rumah. Dan saat sebelum itu aku berkaca berkali kali,aku tidak ingin terlihat jelek,aku semprotkan sebanyak mungkin minyak wangi agar jika bertemu dia mencium bau harum dariku. Aku menata rambutku,menata poni agar lebih menunjang penampilan. Minggu yang biasanya aku tanpa mandi,jika tahu dia akan datang maka aku mandi lebih awal. Begitulah mingguku selama tiga tahun.bagaimana gusarnya aku memilih baju untuk aku kenakan saat akan bertemu. Aku memang tidak sempurna namun aku tidak ingin terlihat begitu kurang untuknya.

Dia datang dan masuk, mulai bercerita dan menghangatkan suasana. Kami tertawa,terkadang sekali dua kali dia membelai rambutku. Dan lebih sering untuk mengacak poniku. Tangannya begitu halus,lebih halus dariku yang seorang wanita. Berdekatan membuatku lebih tenang “ayem” banget. Dan sepuluh minggu tidak aku lalui dengan hal hal seperti itu. “Gloomy Sunday”. Bahkan di minggu minggu pertama adalah minggu terberat dengan segala ketakutanku. Aku bukan takut pada hari minggu. Aku lebih takut untuk bangun dan mengingat minggu minggu laluku. Bahkan sebelum fajar datang aku telah bangun untuk menangis. Tentu bukan kehendak pikirku,tapi perasaan. Bagaimana sedihnya aku. Bagaimana ketika aku memejamkan mata namun dengan kesadaran ingatanku atas masa lalu,aku meneteskan air mata. Setiap pagi aku sulit untuk bangun,sulitnya adalah karena aku sendiri yang menghendaki untuk tidak bangun.

Sudah berbagai cara aku lakukan untuk supaya aku melupakan mingguku yang terasa menyesak karena telah mengambil banyak keberanianku. Sudah dengan  teman temankuyang  selalu menyemangatiku. Tapi ketika semangat itu datang entah kenapa aku lebih keras menangisnya. Seolah itu adalah cara terakhir untuk meredakan kegelisahanku atas Minggu. Bahkan akupun seperti tidak ingin melihat bagaimana gambaran jelas mingguku dulu,aku mengubah posisi meja dan kursi di ruang tamu yang menjadi saksi bisu betapa bahagianya aku dulu. Dan kini aku menghabiskan mingguku dengan bermain dimana saja dengan siapa saja dan kemana saja. Terkadang jauh dari rumah mebuatku lebih bisa untuk tidak mengingat. Ya  meskipun pada akhirnya aku harus kembali mengingat.

Lucu.. akupun menangis saat menulis ini. Tidak ada maksud apapun aku menulis ini selain menenangkan dan untuk melegakan hati yang sedang meratap. Semua adalah isi dari otakku yang bekerja lebih keras dengan hasrat melupakan. Namun karena tidak juga lupa menjadi sebuah uneg uneg yang menempati ruang hati dan pikiran,dan menjadikan penuh sesak. Jadi aku membuang sebagian itu dengan sebuah tulisan.

Bukan sebuah pilihan seseorang bersikap picisan sepertiku. Bukan sebuah kemauan mencacatkan hati sendiri. Yah itu semua nasib sesungguhnya. Namun merupakan sebuah nasib yang masih bisa kita ubah alurnya. Jika nasib kita menangis hari ini, kita bisa menahan tangisnya sebagai pengubahan takdir. Jika kita sedih hari ini maka cari dan berusahalah membahagiakan diri. Hati dan otak memang terkadang tidak dapat disatukan. Kita tidak bisa begitu saja menyalahkan perasaan atau sebaliknya. Mereka sesungguhnya telah bekerja keras untuk dapat bekerja berkesinambungan, namun yang keliru adalah kekurangan control diri kita dan lemahnya manajemen untuk mengatur dan mengorganisir sebuah perasaan dan pemikiran secara logis.

Quote

Mengingat lebih bijaksana dari pada harus melupakan dengan sebuah pemaksaan yang menyakitkan

                           ----By. Leny Dy

2 komentar:

Anonim mengatakan...

aduh leny,..
terharu aq baca ini,...
sabar yah,..
:)

Ldy mengatakan...

piun yah....??
hahaha aduh gpp... jo sampek nangis yo..
hanya tulisan sayang...

Posting Komentar

 

(c)2009 HATI LDY. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger