AYAH….
AYAH makna harfiahnya adalah suami ibu yang berarti dia adalah orang tua. Ayah unttukku sebutan itu berbeda makna dengan Bapak. Iya seorang Ayah yang seyogyanya melindungi istri dan anak mereka. Bukan menjadi tulang punggung saja dalam focus hidup yang aku inginkan. Ayah lebih dari sekedar untuk memberikan kita makan, bukan untuk segala pembiayaan kebutuhan. Ayah lebih kepada harapanku menjadi seoarang penentram. Yang ketika marahku dia mampu mengeluku dengan segudang kata kehangatan,yang membelai ku dengan segala ketulusan.
AYAH adalah keseimbangan hidupku. Dimana kananku berdirinya dia dan dikiriku ada Mama. Bagaimana bisa semua itu tidak sempurna.
Jelas tidak sempurna ketika aku hanya bisa menggambarkan Ayah dari bayangan bayangan yang tertuang pada sebuah kepingan kata yang terkumpul. Rasa rinduku pada AYAH apakah lebih besar dari rinduku padaMU TUHAN. Aku tidak tahu. Karena baiknya Engkau adalah belum membiarkanku mersakan kasihnya yang teramat. Dan ketika aku membutuhkan keseimbangan dan aku terbayang aku bersyukur rasa sakitku mungkin tidak lebih besar dari pada rasa sakit sodara sodaraku yang telah ditinggalkan ayah yang senantiasa mengasihi mereka.
Namun TUHAN aku tak mampu memendam,
aku tak mampu seoalah “tidak apa” seolah semua “baik baik saja”.
Bukankan itu bohong TUHAN.
Aku ingin sekali beradu muka dengan AYAH.
Entah apa yang aku rindukan darinya.
Apakah matanya? Apakah bibirnya? Apakah suaranya? Atau apakah hanya inginku sekedar melihat bagaimana Ayah.
Namun ternyata aku hanya perlu berkaca untuk melihat Ayah.
Sosoknya ada padaku.
Tapi apakah semirip itu denganku TUHAN. !
Apakah dia memiliki mata yang sedikit kelopak sepertiku? Memiliki bibir yang tebal sepertiku atau memiliki hidung yang kurang mancung sepertiku?.
Seberapa tinggi Ayah dariku TUHAN. ?
Apakah sama ? apakah lebih tinggi atau mungkin justru aku mengunggulinya.
Apakah Ayah telah beruban.
Kalo iya kemarikan biyar aku ambili di sore hari..
Apa Ayah sering kelelahan..
kemarikan biyar aku pijat….
Jika Ayah Lapar bawakan sini biyar aku ambilkan makan…
Saat Ayah sakit biyar Ayah kemari untukku rawat
AYAH… AYAH kemarikan TUHAN … aku ingin bersamanya dihari tuanya..
biyar aku pijatkan pundaknya.. biyar aku suapkan makan kemulutnya..
biyarkan aku menjadi makmumnya…
AYAH dimana…. Kembalilah pulang ayah,,
biyar aku melihat..
biyar aku tahu Suka dan tidak sukanya Ayah padaku..
Marahi aku Ayah,, kata mereka aku nakal…
pukul aku Ayah saat aku malas ibadah..
Ayah…. Datang
tidak akan pernah aku tutup pintunya…
akan aku siapkan secangkir teh hangat untuk ayah..
kusiapkan air hangat untuk Ayah mandi..
datang Ayah,,
aku telah lama belajar memasak..
agar Ayah suka dan mau lebih lama di rumah…
puji aku pada kecantikanku...
cemooh aku pada kejelekanku...
puji aku pada kecantikanku...
cemooh aku pada kejelekanku...
ingatkan aku pada keliruku...
datanglah AYAH,,
nasehati aku untuk bagaimana hidup...
datanglah AYAH,,
nasehati aku untuk bagaimana hidup...
Ayah datanglah..
untuk nanti bagiku...
untuk nanti bagiku...
saksikan aku bersatu dengan sebuah cinta…
memberiku petuah sebelum hari H..
dan akan menjadi wali untukku padanya..
memberiku sedikit air mata pelepasan...
sentuh pundaku untuk sebuah kerestuann dan kerelaan
memberiku sedikit air mata pelepasan...
sentuh pundaku untuk sebuah kerestuann dan kerelaan
dan disuatu ketika ayah lelah..
bermainlah kemudian dengan cucumu dariku…
biyar mereka hapus penatmu Ayah…
Dan ketika tiba masa engkau terpejam selamanya..
biyarkan tetapku disampingmu..
mengiringi pergimu dengan doa..
dan sebuah kalimat penghantar…
Aku menyanyangimu AYAH…
Quote :
"Kepatutan berharap di ukur dari sebuah NIAT"
----By. Leny Dy
Quote :
"Kepatutan berharap di ukur dari sebuah NIAT"
----By. Leny Dy
0 komentar:
Posting Komentar