C'est Moi

Tertulis saja sebuah cerita yang tidak semua tentang saya atau kamu saja... tapi tertulis semua apa yang aku dengar dari mereka atau sekedar aku lihat dengan tak sengaja... Jadi bijaklah dalam menilai dan menafsirkan segala apa yang ada di "Hati Leny"

"Ho Scritto una storia d'amore senza inizio e senza fine per scriverla con te"

Pages

Senin, 12 Desember 2011

25 November 2011,Jum'at 

Pelataran Aula Masjid Baitturahman Simpang Lima Semarang.


di bawah itulah kajian oleh pak Saratri.

Subhanallah ketika aku mengikuti Maiyahan di Semarang. Pertama kali dan merupakan rekor Maiyahan terlama mungkin. Tidak ada rasa kantuk sedikitpun ketika Cak Nun masuk untuk mengisi. Dan memang benar beruntung buat aku bisa mendengarkan suara Noe yang memang benar benar bening yang disertai dengan punggawa Letto lainnya. Cak Nun pun sempat menyinggung lirik lagu putranya yang kedengarannya seperti lagu cinta namun memilki makna yang berbeda, dan pengkonotasian yang berbeda dari pandangan masyarakat pada umunya.Lirik Lagu Letto seungguhnya diperuntukan dan ditujukan atas kecintaanya dan kerinduanya pada TUHAN. Dan aku adalah satu dari sekian banyak orang yang telah salah memaknai lagu lagu Letto.


begitu banyak hal yang aku dapat malam itu. batin semua tentang batin.

Ketika Cak Nun bertanya kepada Jemaah Maiyah, “Siapa yang ada di hatimu?” pertanyaan sepele memang tapi menumbuhkan pergolakan dibatinku. Jelas tidak terlihat aku merasa mamang tentang hidupku setelah itu. Meskipun aku tertawa mengikuti kelucuan Jemaah lainya. Tapi saat diam aku berpikir. Siapa yang ada didalamnya dan harusnya siapa yang ada di dalamnya. Ketika Cak Nun berkata Tuan Rumah Hatimu haruslah ALLAH SWT dan yang mengenalkan ALLAH pada manusia yaitu Rasulullah SAW.
Tertampar rasanya jiwa ku. Seperti telah salah hidup ku selama ini. Aku mengisi hatiku dengan banyak orang di dalamnya. Yang aku tahu hanya Cinta kepada “siapa” yang harus dikuatkan dalam hati. Aku sadar benar aku berfikir siapa yang ada di dalam hatiku adalah dia “orang” manusia yang sesungguhnya tidak memilki kuasa dan pemberdayaan pada hidupku. Sadar benar aku telah salah memenuhi hati ini akan sesuatu dan sesorang bukan TUHAN. Dan aku melupakan TUHAN(bukan lupa,hanya tidak membwa tuhan di dlam Hati setiap saat setiap waktu). Aku sholat,mengaji,bersholawat ber dzikir ketika itu TUHAN mengisi hidupku memang. Namun setelah aku ingat ingat kembali setelah aku tidak bersama TUHAN dalam artian aku meperdekatkan diri dengan kewajibanku sebagai seorang yang beragama,namun aku melalaikan TUHAN setelah pelaksanaan kewajiban.
Begitu banyak yang bisa aku contohkan betapa banyak yang tidak menempatkan TUHAN sebagai Tuan Rumah hatinya.

Aku mengingat kembali bagaimana ketika kita sedang jatuh cinta. Begitu yakin bahwa yang ada di hati kita adalah Dia “orang”. Mendengar perkataan Cak Nun sungguh membutaku entah apa istilahnya tergugah atau apa. salah selama ini pemaknaan isi hati. Ada harapan besar bahwa aku ingin benar benar tidak menyelingkuhi TUHAN. Aku sangat ingin ketika aku memuja muji TUHAN aku tidak akan melupakannya seketika. Seperti dulu aku berkata  I Love you pada “pacar” yang perasaan itu tidak akan berkurang dan berubah meskipun kita ditempat yang terpisah bahkan jarang sekali berjumpa. Aku ingin memastikan ALLAH SWT dan Rasulullah SAW benar benar menjadi Tuan Rumah bagi hatiku. Meskipun untuk seorang yang sepertiku tidaklah mudah. Aku ingin ketika aku memuja dan memuji keDUAnya aku tidak terus lupa seketika. Contoh tentang Musa yang diceritakanpun menyadarkan bahwa ALLAH berkuasa atas diri kita. Mau diapakan dan bagaimana kita pasrahkan padaNYA. Yang pasti yang terpenting yang harus dilakukan seorang umat adalah menghadirkan diriNYA dimanapun kita dan bagaimanapun kita. Aku berharap ALLAH selalu besertaku.

Maiyahan malam itu sungguh sangat bermakna bagiku. Ulasan dari Cak Nun benar benar mebuat aku berfikir keras..sangat keras untuk selanjutnya memikirkan apa hidupku selama ini dan bagaimana aku harus memperbaiki hidupku sekarang dan untuk nanti.



Di malam itupun,ada juga sebuah kalimat yang aku ingat “ Dewasa adalah ketika kita siap dan mau berbuat apa yang tidak kita sukai,, dan kita mampu untuk tidak berbuat apa yang kita sukai”..(kurang lebih begitulah yang aku tangkap,,tidak tepat seperti itu juga perkataanya,itu intinya). Aku mengkaji itu sendiri menurut pandangan dan pendapatku. Yang berusaha untuk kemudian aku terapkan ke dalam kehidupanku. Yah kembali itu sangat tidak mudah. Dewasa secara umur mungkin aku bisa,tapi untuk dewasa secara pandangan,pemikiran aku belum mampu ternyata. Ada banyak hal yang me”minus”kan kehidupanku. Dimana aku hanya mau melakukan pekerjaanku( dunia kerja ) saja dan tidak ingin mengerjakan yang lainya,egois dengan hanya mementingkan kebutuhanku.semua mulai aku pelajari dan aku pahami. Agar bersikap lebih baik dan bijak dalam Hidup bersosialku.

Aku sadar benar aku bersifat arogan ditempat kerjaku. Aku merasa aku bisa untuk semua. Dan aku menunjukannya dan dalam hati juga pikiranku pun aku “merasa”. Cak Nun berkata orang yang besar dan hebat itu tidak pernah merasakan dirinya itu seseorang yang Hebat. Mencontohkan “P”. Yang datang untuk menolong seseorang yang jatuh ke dalam sumur. Yang sebelumnya telah ada “TS” namun mereka tidak berani menolong karena dikwatirkan ada gas yang bisa mebahayakan kalo kita turun. Namun dengan kesigapan dan keyakinan “P” mengambil seutas tali yang dinyalai api,untuk mengetes apakah ada reaksi gas atau tidak. Dengan tindakan “P” korban berhasil diangkat ke atas. “P” dipandang sangat hebat,namun baginya itu adalah hal yang biasa dan dia tidak merasa dirinya itu hebat. Lantas apa aku telah merasa hebat dan sok bisa,padahal aku tidak menyelamatkan siapapun aku hanya melakukan kewajibanku dalam bekerja,harusnya itu normal dan tidak perlu mendapatkan apresiasi apapun. Aku bukan seorang yang hebat lantas bersikap layak seorang yang hebat. Itulah salahku kemudian yang aku sadari. Dan kemudian aku yakin, Bersikap rendah diri adalah sikap seorang yang besar,bukan dimata manusia manapun atau siapaun,besarnya adalah dihapan TUHAN.


Ada saat aku harus melihat sebuah kejadian yang tidak aku sangka.

Dan ketika aku harus melihat bagaimana Cak Nun dan satu anggota Kiai Kanjeng menangis karena ungkapan pak Sugiyono (tukang becak,demak). Bagaimana dia menyampaikan yah meskipun tidak secara langsung “menTarifkan” Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Dari situpun aku belajar bagaimana seseorang dengan keteguhan seprti Cak Nun mengajak kita berkontribusi pada kebaikan. Mengingat umur dan segudang penglamanya. Tidak akan pernah ada nominal yang bisa untuk membayarnya. Sebuah ketulusan memang tidak akan bisa terbayarkan oleh seberapa banyak nominal yang ditawarkan. Tetap ada harga untuk mereka namun itu bukan tarif yang pasti. Harga itupun bukan untuk menilai seberapa rupiah untuk bisa menghadirkan mereka. Tapi harga sebuah hidup untuk keluarga keluarga yang mereka harus tinggalkan demi menyebarkan ajaran ajaran kebersamaan,ajaran untuk manusia lebih kenal pada TUHANnya.

Bukan kah itu luar biasa. Menurutku sangat luar biasa. Cak Nun terlihat lelah sesungguhnya malam itu. Namun mobilitas mereka sangat besar sampai sampai tidak memandang seberapa besar tenaga yang harus mereka keluarkan untuk ini. Cak Nun meyakini tak perlu ambil pusing. Tetap bisa hidup dimanapun dan bagaimanapun, selagi ALLAH ada dihati kita menjadi pedoman kita. Maka DIA lah yang akan menjaga kita. Bukan presiden,bukan tentara,bukan polisi dan bukan siapapun. Urip “gasruk” wae

hadirkan ALLAH di dalam hidup kita.setiap saat setiap waktu dalam kondisi kaya miskin,susah senang. dan aku berusaha menuankan ALLAH SWT dan Rasulullah SAW dalam hati. agar ketika kita hidup selalu dalam petunjuk dan bimbingaNYA.  Semoga ALLAH selalu beserta kita.

0 komentar:

Posting Komentar

 

(c)2009 HATI LDY. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger