Masa masa awal ketika kita sedang merasa terpuruk adalah masa masa premature. Dimana kita sangat rentan dengan dua kata “bodoh” dan “pintar”
Terpuruk yang bisa kita istilahkan sebagai subuah “cobaan” atau “masalah” terkadang bisa membuat kita sangat bodoh.
Dan aku ingin memberikan gambaran kebodohan itu. Dalam kebodohan itu menjadikan kita seorang yang tuli,buta dan bisu.
Tuli . Telinga kita bisa mendengar sesungguhnya,namun telinga itu tidak difungsikan sebagai mana mestinya. Ketika ada sebuah perkataan,sebuah nasehat yang datang untuk menenangkan justru kita tidak ingin mendengar. Bahkan terkadang kita justru sengaja tutup telinga dari nasehat nasehat orang lain. Merasa bahwa nasehat itu adalah teori. Dan pasti tercetuslah dalam pikiran atau hati kita “gampang saja mereka bicara,coba kalo mereka ada di posisiku” aku yakin bukan hanya aku yang seperti itu dalam kondisi yang sedang di coba,beberapa dari yang lainpun se arah dengan yang aku sampaikan(mungkin,namun tidak banyak).
Buta. Kita memiliki sepasang mata yang masih normal yang seharusnya masih bisa untuk melihat,namun justru sengaja menutup mata. Dan tidak mau tahu keadaan sekitar seolah yang terluka terpuruk adalah hanya kita. Kita lupa masalah berat tidak hanya menimpa kita. Dan mungkin justru orang lain lebih mengalami kesulitan dari pada apa yang kita alami. Tp mungkin mereka tidak se”Lebay” kita dalam menghadapi masalah. Namun cobaan yang justru menjadi kan kita buta atas kehendak sendiri adalah menunjukan bahwa kita tidak memilki kelapangan dan cenderung jauh dari TUHAN. Buta yang dibuat sendiri adalah bentuk ke dzaliman pada diri sendiri. Karena kita menutup peluang untuk lebih berbahagia.
Bisu. Masih memilki suara merdu kita namun tak sekalipun berucap syukur atas masalah yang merupakan cobaan dan bentuk kasih dari TUHAN. Kita hanya membatin betapa sulit yang kita alami. Mulut kita tak berujar apapun dalam keterpurukan. Hanya diam. Dan sekalinya berucap hanya rentetan kemarahan cacian yang samar terdengar karena luapan emosi yang hanya menjadikan banyak kata itu seolah tanpa artian. Dan ujaranyapun tidak akan jelas terdengar hanya bicara menyeret.
Tuli Buta Bisu adalah efek dari kebodohan manusia dalam menyikapi masalah. Terkadang manusia yang sepertiku, egois arogan dan terlampau tidak tahu diri kadang terjebak dalam tiga perkara itu. Merasa bahwa aku adalah orang yang paling menderita sedunia. Tidak memperdulikan nasehat orang lain,tidak mau melihat di sekitar bahwa ada yang jauh lebih kesusahan dariku dan tak mau berkata apapun selain rasa marah dan kecewa dihati. Itulah aku saat TUHAN menunjukan kasihnya dan aku justru menjadi manusia bodoh.
Semestinya jika kita memiliki TUHAN di dalam hati,maka kita akan memaknai setiap cobaan adalah bentuk ilmu yang mengajarkan kita pada hakekat kehidupan. Memintarkan kita sebagai makhluk TUHAN. Hendaknya kita sebagai seorang yang beragama dan berTUHAN menggunakan pikiran untuk menafsirkan setiap permasalahn yang ada. Agar kita tidak menjadi manusia yang bodoh dan manusia yang tidak beruntung karena salah mengartikan kekasihan TUHAN pada kita.
Aku sadar benar bagaimana bodohnya aku ketika mendapat cobaan dari TUHAN,lupa segalanya. Itulah sifat dasar manusia luput lalai dan lupa. Aku mulai bisa berpikir setelah beberapa saat lalu aku merasa diuji oleh TUHAN. Ujian yanga ku rasakan sebagai batu pijakan menuju ke sebuah pemikiran yang dewasa,yang mampu melapangkan hatiku seluas luasnya. Aku mulai megibaratkan dan mencontohkan cobaan TUHAN adalah cobaan seorang kekasih pada kekasihnya. Semisal : Kita begitu sangat menyayangi pacar kita namun ada kalanya kita ingin tahu seberapa besar rasa sayangnya pada kita sehingga kita memberinya ujian dan berbagai macam cobaan agar kita tahu seberapa kuat dan besar cinta kasihnya untukku kita. Jika memang pacar kita bersungguh sungguh menyayangi dan mencintai kita dia akan terima segala ujian itu dengan sebuah kemantapan dan keyakinan “aku mencintaimu,maka akan aku lakukan apapun untuk bisa meyakinkanmu”. Dan ketika kita melihat kesungguhan hati pacar kita pastinya kita akan jauh lebih menyayanginya bukan. Akan memberinya cinta kasih yang lebih besar dari sebelumnya.Maka itulah TUHAN pada kita,karena rasa sayang DIA menguji kita. Dan tak akan terelakan jika kita menjadi seorang yang pintar karena ujian itu maka kita akan lebih dekat pada TUHAN.
Hidup yang sekali ini jangan lah di sia siakan dengan perkara perkara yang menjauhkan diri kita dari TUHAN. Tidak harus kita menjadi seorang kiai,bergelar haji atau hajah,menyandang tittle ustadz atau dikenal sebai ulama besar untuk bisa lebih dekat dengan TUHAN. Kita hanya perlu mengisi dan membentuk hati seperti seorang tukang becak (jemaah maiyahan GS) yang dengan lugu namun penuh ketetapan dan keyakinan berujar berujar dala segala keterbatasan “gusti ALLAH mboten sare”. Iyah ALLAH tidak pernah tidur DIA sebaik baiknya pelindung dan penjaga. Aku ingin hidup pintar dengan memaknai hidupku tidaklah sulit ketika aku menyimpulkan segalanya dengan cerdas,bahwa semua kehendak TUHAN semua titah TUHAN. ALLAH begitu dekat denganku namun keseringan aku lupa tidak mebuat ALLAH menjauhiku.
Kemarin adalah masa masa aku terpuruk dan ALLAH mengajariku berfikir cerdas. Akan selalu ada jalan keluar akan selalu ada kebaikan. Kita hanya perlu yakin untuk kuasa TUHAN atas diri kita. Dan DIA tidak akan berlaku semena mena tanpa maksud kepada umatNya.
Ada hikmah dan makna di balik setiap pekara pekara yang timbul,ingii bodoh atau pintar bukan sebuah takdir pasti. Membodohkan diri atau memintarkan diri adalah sebuah pilihan yang di dasari fondasi prinsip keimanan dan ketaqwaan.
Quote :
"Hidup adalah keluesan berprinsip,dimana hati dan pikiran harus seirama dengan iman dan taqwa"
----- By. Leny Dy
#dan saya sedang berusaha keras untuk itu.
Besertakulah selalu ya ALLAH… =)
dan aku heran dapat kata itu dari mana... "keluesan berprinsip"...hahahaha opo kui..... =P
dan aku heran dapat kata itu dari mana... "keluesan berprinsip"...hahahaha opo kui..... =P
0 komentar:
Posting Komentar